Selasa, 22 Januari 2019

Prologue of Blue Spring

Her POV

Juli 2014 ....

Aku meletakan tas di meja baruku. Menoleh sekilas pada teman sebangkuku yang kini terpaut jauh. Lalu mengukir senyum padanya, memberi tanda terima kasih tanpa suara.

Kini, mataku melirik sekilas chairmate baruku selama seminggu ke depan―selama MOS. Laki-laki. Dan, hanya wajah sampingnya yang dapat kulihat.

Hati-hati, dia bakal punya pengaruh besar dalam hidupmu.

Aku mengerjap begitu batinku berkata. Buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Apa-apaan pikiran yang melintas tadi? Jangan bercanda.

Sayangnya, sesuatu mencengkram benak dan batinku sekarang. Entah apa yang tadi kupikirkan, harus dipertimbangkan. Aku tidak boleh dekat-dekat orang ini kalau tidak mau cari masalah.

Sayangnya, sepulang sekolah ... kami ada di ekskul yang sama.

Rabu, 16 Januari 2019

Sepintas Mimpi

Write on 18 November 2018

Kemarin, seorang gadis tengah bermimpi. Mimpi kecil yang pendek namun sangat menyakitkan.

Hari itu kenaikan kelas. Ia ada di tahun ke tiga sekolahnya. Hanya saja ada yang berbeda tahun ini. Sekolahnya mendadak menjadi besar. Ruangannya amat banyak, ia tidak mengenalinya.

Di saat yang sama, ia tak kunjung menemukan kelas miliknya. Namanya tidaklah tercantum di kertas yang tertempel di depan pintu. Lebih tepatnya belum menemukan kertas yang memuat namanya.

Dan saat menemukannya, hatinya mencelos. Seketika ingat sesuatu. Ia sadar akan sesuatu. Ia sadar kalau semua ini hanyalah mimpi. Terlebih, nama sosok itu tak ada di kelas yang sama dengannya.

Padahal seharusnya sama.

Ia jadi teringat pemikirannya setiap akhir semester di dunia nyata. "Aku tak pernah bisa membayangkan kalau kami ada di kelas yang berbeda."

Rasanya seperti saat ini. Menyakitkan.

Saat terbangun ia sadar, mereka sebenarnya sudah lulus. Dan mereka berpisah. Mereka tak lagi berada di tempat yang sama. Mereka benar-benar terpisah jauh.

Minggu, 23 Desember 2018

Pertemuan Kecil di Kejauhan

Mengirim...

Loading yang terasa lama kalau kupikir. Mengirim sebuah gambar dengan banyak tulisan yang sebenarnya tak aku mengerti apa tujuannya.

Belum ada yang melihat.

Setidaknya kalimat itu akan bertahan beberapa waktu ke depan, digantikan oleh nama-nama akun yang mayoritas kukenal di dunia nyata dan maya.

"Buat apa sih ngirim ginian?" tanyaku pada diri sendiri.

Seraya mengabaikan ponsel sejenak. Aku melanjutkan kegiatan lain. Apapun itu.

Masih belum ada.

Diam-diam sesuatu terpatri. Hoo, aku menunggu seseorang, ya? Untuk apa ditunggu kalau aku tak menujukan kalau itu untuknya? Sebenarnya apa yang kumau, huh?

Hampir tengah malam, belasan jam berlalu sejak gambar terakhir itu kumasukkan dalam insta-story. Well, aku meragukan kalau itu dinamakan cerita.

Beda 4 jam, mungkin lagi mau istirahat.

Intuisi bandelku lagi-lagi mengoceh, sementara otak ini enggan mengakui kalau aku tengah menunggu. Ayolah, tak ada gunanya.

Namun tanganku bergerak semaunya, menekan kembali fitur sama seperti tadi siang.

Gambar kosong, kelabu berisi satu kata.

Dissapeared

Lantas satu kata itu kembali muncul saat pengiriman. Masih pengiriman yang lama. Ujung kanan ponselku menunjukkan pukul 00:57.

Begitu terkirim, satu nama pengguna keluar. Bukan nama seorang idol atau apa, namun mampu membuat jantungku menyentak amat kencang. Satu sentakkan kencang saat melihatnya.

Akhirnya, kami berpapasan.

Bertemu.

Berkomunikasi.

Cukup? Aku menegaskan pada diriku sendiri. Kebiasaan bodoh yang hampir kulakukan setiap hari. Hanya untuk melihat nama itu. Lalu dengan naifnya berkata kalau itu adalah sebuah komunikasi.

Komunikasi jarak jauh di mana langit antara kami membentang begitu jauh, dan waktu yang berbeda terus bergulir.

Cukup bagiku.

Setidaknya aku tahu, Kau ada.

Selasa, 18 Desember 2018

Unknown Letter

Entah kenapa aku menuliskan ini. Tapi aku tahu satu hal, karena aku baik-baik saja. Karenanya aku bisa menuliskan hal seberat itu. 

Sabtu, 04 November 2017

Panggung Sandiwara

Aku menulis ini karena kejadian tadi malam. Err, bukannya kejadian, sih. Jadi hanya sebatas mimpi saja.

Sebelumnya―sebelum tidur―aku mengotak-atik laptop karena teringat hal yang terjadi tadi siang. Aku dan kedua temanku ada di sebuah restoran makan jepang yang sebenarnya sudah lama kuketahui sebelum mereka. Kebetulan saat SMA aku pernah beberapa kali ke sana. Karenanya, aku membandingkan keadaan itu sepulang kuliah dengan foto yang ada di laptop.

Jauh berbeda.

Kebetulan, foto itu kumasukkan dalam folder berjudul Blue Spring, yang berarti masa muda kalau kedua kata itu ditulis dalam kanji Jepang.

Oke, lupakan.

Setelahnya, aku malah terlena pada foto-foto lain. Foto yang kebanyakan isinya bukan seorang dua orang. Melainkan sekumpulan. Dan di situ ... aku kembali teringat akan keberadaannya.

Payah.

Harusnya aku sudah lupa berhubung manusia itu sudah jauh di seberang cakrawala sana. Dan bodohnya lagi ... aku malah menangis, lalu menertawakan diri sendiri di depan layar itu.

Juga, kalau diingat-ingat. Ucapannya yang dulu terdengar sepintas di telingaku benar-benar nyata. Ucapan yang ia lontarkan di depan kelas saat aku ada di sebelahnya. "Lu, bukannya jago akting?"

Menohok diriku saat itu dan ... saat ini. Ya, aku memang pandai melakukan hal itu kalau dipikir-pikir. Bukan di atas panggung pentas, karena aku terlalu takut di tempat penuh kepura-puraan itu. Tapi kenapa, di panggung yang sesungguhnya, dalam kehidupan ini, aku terlalu sering melakukannya.

Buruk.

Menyedihkan.

Tapi ... andaikan aku bisa berpura-pura lagi. Seperti saat aku berpura-pura tak menyukainya, lantas hidup dengan penuh sandiwara di dalamnya.

“Sekarang ... aku harus apa?” tanya hati ini.

Dan setelahnya, aku hanya terlelap dan kembali ke masa itu tanpa akting yang baik. Di dalam mimpi.

Minggu, 08 Oktober 2017

Untitled Itu Mainstream, Hanya Saja Tak Ada Pilihan Lain

Minggu, 08 Oktober 2017

 Udah lama sejak terakhir kali aku ngggurin blog ini. Lol, ini blog pengganti yang sebelumnya malah lupa password. Dan gak bisa dipulihin karena no hp ganti. Miris.
 Ah ya, kemarin-kemarin aku juga ngahapus beberapa ( re: semua ) chapter novel yang aku jadiin project pas kelas 10. Sekarang udah kelas―oke, aku udah kuliah. Lol, ga mau tua kan gini mwehehe. Dan pas hapus itu aku beneran tanpa perasaan main hapus aja. Pas udah kehapus semua langsung cengo dan kuberkata, "Eh, ada viewers-nya, ya?" Dan di situ aku ngerasa bego banget. Plis, nyesel-nyesel!
 Tapi, demi apapun! Tulisan itu berantakan banget. Tanda baca gak jelas dan ... err, alay, plis. Walau kuakui di sini lebay banget. But, nyesek 😂😂😂
 Ah, udahlah, ya? Kertas kosong udah terlanjur dicoret-coret. Dan ... terima kasih udah baca ocehan gak jelas ini. Btw, kau kah salah satunya? :))

Regards

Nari

Kamis, 21 Januari 2016

Lirik Lagu JKT48 - Suki!Suki!Skip! (Suka!Suka!Skip)

SUKI! SUKI! SKIP!

One! Two! Three! Four!

Jikalau tidak suka
Jikalau tidak suka
Tak kan ada yang terjadi

Lala lalala lalalalala

Saat ini senin pagi telah tiba
Tidak perlu lihat jarum jam aku berangkat
Di kereta yang penuh didorong oleh penumpang lain
Bahkan kaki terinjak pun ku maafkan dan tertawa

Semua orang yang jatuh cinta (umumnya)
Hatinya terasa ringan (tersihir)
Bagai berjalan di atas awan
Menuju dunia mimpi

Ku jadi ingin melompat dan mengangkat tangangku
Dengan memikirkan kamu saja gravitasi sirna
Rasanya ku bisa ke mana pun juga
Hidup itu memanglah luar biasa
Sekarang ayo pergi
Suki! Suki! Skip!

Seandainya kamu mengobrol dengan asik
Bersama cowok yang lain s'kalipun tak masalah
Dibanding m'rasa cemburu pura-pura tidak lihat
Yang penting dirimu bisa bahagia dengan caramu

Di pojok kota semalam terlihat (silaunya)
Bersinarnya dengan penuh kilauan
Tiada sesak yang yang melimpah
Di bawah langit biru!

Ku jadi ingin melompat dan kemudian terbang
Yang perasaanku saat ini semakin meningkat
Passion ini rasanya sampai ke langit
Cinta searah tidak kan membuat luka
Esok pun ayo pergi
Suki! Suki! Skip!

Jikalau tak bertemu
Jikalau tak bertemu
Hari ini pasti tak kan penuh debar cinta

Karena bertemu denganmu
Diriku pun berubah
Ku teringat dan tertawa
Haaaa...

Ku ingin jadi melompat dan mengangkat tanganku
Dengan memikirkan kamu saja dadakupun berdebar
Romansa hatiku yang dirasa tubuh ini
Hidup itu memanglah luar biasa

Ku jadi ingin melompat dan kemudian terbang
Yang melebihi perasaanku terbanglah sampai ke angkasa
Keberadaan membuatku ingin terus skip
Kita bisa merasakan hidup
Esok pun ayo pergi
Suki! Suki! Skip!